Rabu, 16 April 2014

Economy, Work, Politics, and The Modern World System

EKONOMI
Kata ekonomi pada awalnya berasal dari bahasa Yunani, “oikos” berarti rumah tangga dan “nomos” aturan. Pengertian ekonomi tidak jauh dari bagaimana upaya seseorang dalam menjalani kegiatan yang bertujuan terhadap kemakmuran. 
definisi ekonomi menurut beberapa ahli:

ADAM SMITH
Ekonomi ialah penyelidikan tentang keadaan dan sebab adanya kekayaan negara

MILL J. S
Ekonomi ialah sains praktikal tentang pengeluaran dan penagihan

 ABRAHAM MASLOW
Ekonomi adalah salah satu bidang pengkajian yang mencoba menyelesaikan masalah keperluan asas kehidupan manusia melalui penggemblengan segala sumber ekonomi yang ada dengan berasaskan prinsip serta teori tertentu dalam suatu sistem ekonomi yang dianggap efektif dan efisien

HERMAWAN KARTAJAYA
Ekonomi adalah platform dimana sektor industri melekat diatasnya

PAUL A. SAMUELSON
Ekonomi merupakan cara-cara yang dilakukan oleh manusia dan kelompoknya untuk memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat
ð  Kapitalism adalah sistem ekonomi yang berarti produksi diadakan sebagian besar di tangan swasta 
ð  Sosialism adalah sarana produksi dan distribusi dimiliki secara kolektif bukan milik pribadi

 Sistem ekonomi kapitalis:

·         Pengakuan terhadap kepemilikan individu terhadap sumber ekonomi
·         Kompetisi antar individu dalam memenihi kebutuhan hidup dan persaingan antar badan usaha untuk mengejar keuntungan
·         Tidak batasan bagi individu dalam menerima imbalan atas prestasi kerjanya
·         Campur tangan pemerintah sangat minim
·         Mekanisme pasar akan menyelesaikan persoalan ekonomi
·         USA

Sistem ekonomi sosialis:

·         Kepemilikan oleh negara terhadap sumber ekonomi
·         Penekanan terhadap kebersamaan dalam menjalankan dan memajukan perekonomian
·         Imbalan yang diterima oleh individu berdasarkan kebutuhan, bukan prestasi kerja
·         Campur tangan pemerintah sangat tinggi
·         Persoalan ekonomi harus dikendalikan oleh pemerintah pusat
·         USSR
Sistem ekonomi campuran:

·         Kepemilikan oleh individu terhadap sumber ekonomi diakui negara
·         Kompetisi antar individu dalam memenihi kebutuhan hidup dan persaingan antar badan usaha untuk mengejar keuntungan
·         Imbalan yang diterima oleh individu berdasarkan kebutuhan, bukan prestasi kerja
·         Campur tangan pemerintah hanya untuk bidang tertentu seperti bidang yang diperlukan oleh seluruh masyarakat (listrik dan air)
·         Mekanisme pasar akan menyelesaikan persoalan ekonomi dengan beberapa hal perlu adanya campur tangan pemerintah

Sistem ekonomi dan politik

Dumairy (1996), sistem ekonomi adalah sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan.

Sistem ekonomi:
Subyek/obyek: manusia (subyke) dan barang ekonomi (obyek)
Perangkat kelembagaan: lembaga ekonomi formal dan non formal dan cara serta mekanisme hubungan
Tatanan: hukum dan peraturan perekonomian
Sheridan (1998), economic system refers to the way people perform economic activities in their search for personal happiness. Sanusi (2000) sistem ekonomi merupakan suatu organisasi yang terdiri dari sejumlah lembaga/pranata (ekonomi, sosial dan ide) yang saling mempengaruhi yang ditujukan ke arah pemecahan masalah pokok setiap perekonomian… produksi, distribusi, konsumsi. Sanusi (2000), perbedaan antar sistem ekonomi dilihat dari ciri:
a)    Kebebasan konsumen dalam memilih barang dan jasa yang dibutuhkan
b)    Kebebasan masyarakat memilih lapangan kerja
c)    Pengaturan pemilihan/pemakaian alat produksi
d)    Pemilihan usaha yang dimanifestasikan dalam tanggungjawab manajer
e)    Pengaturan atas keuntungan usaha yang diperoleh
f)      Pengaturan motivasi usaha
g)    Pembentukan harga barang konsumsi dan produksi
h)    Penentuan pertumbuhan ekonomi
i)      Pengendalian stabilitas ekonomi
j)      Pengambilan keputusan
k)    Pelaksanaan pemerataan kesejahteraan
Benang merah hubungan sistem ekonomi dan sistem politik


KUTUB A
KONTEKS
KUTUB Z
Liberalisme
Ideoligi politik
Komunisme (menghapus hak perorangan)
Demokrasi
Rejim pemerintahan
Otokrasi  atau otoriter (kekuasaan tak terbatas)
Egaliterisme (Berderajad sama)
Penyelenggaraan kenegaraan
Etatitsme (Lebih mementingkan negara)
Desentralisme
Struktur birokrasi
Sentralisme
Kapitalisme
Ideologi ekonomi
Sosialisme
Mekanisme pasar
Pengelolaan ekonomi
Perencanaan terpusat


Perbedaan sistem ekonomi suatu negara dapat ditinjau dari beberapa sudut:

Sistem kepemilikan sumber daya atau faktor-faktor produksi
Keleluasaan masyarakat untuk berkompetisi dan menerima imbalan atas prestasi kerja
Kadar peranan pemerintah dalam mengatur, mengarahkan dan merencanakan kehidupan bisnis dan perekonomian pada umumnya

Teori World System

Teori World System ini muncul setelah dua teori pembangunan internasional berkembang, teoritersebut yaitu teori Modernisasi dan teori Depedensi. Teori ini muncul sebagai bentuk kritik dari dua teoritersebut dan teori klasik Maxis, dimana teori ini tidak bisa menyelesaikan permasalahan dalam sisteminternasional yang sedang berkembang pada saat itu diantaranya kegagalan gerakan Marxis dan sosialisdalam upaya pembangunan Dunia ke III, Kegagalan kapitalisme barat dalam membangun Dunia ke III

World system theory ini dikembangkan oleh Wallerstein pada tahun 1970an. Teori ini mempelajari bagaimana dinamika kapitalisme memperngaruhi dunia dalam bidang ekonomi. Menurut Wallerstein yangdikatakan sebagai Worldsystem adalah sebuah negara yang modern yang memiliki sistem ekonomi, politikdan kerangka hukum yang kuat. Inti dari Worldsystem ini adalah pandangan Wallerstein yang menentangdunia yang bipolar dimana hanya ada kutub negara kuat (Core) dan negara lemah (Periphery). Wallersteinmenawarkan adanya satu varian lagi dari bentuk sebuah negara yang berada antara dua jenis negara yangtelah di tetapkan sebelumnya, varian negara tersebut adalah negara Semi periphery sehingga urutan negaramenjaga negara Core, Semiperiphery, dan Periphery. Dunia yang bipolar menurut Wallerstein hanya akanmenyebabkan kesenjangan hubungan antara dua kutub dan akan rawan terjadinya konflik akibatkesenjangan antara dua kutub dari segi kekuatan negara


world empire.
Pada system ini aspek ekonomi lebih kepada sistem upeti dan memeras barang-barang yang berlebih dari rakyat. Dimana masyarakat pada kawasan yang terpencil harus memberikan pajak kepada rang-orang yangmelakukan kegiatan tersebut, kemudian membaginya kepada pihak militer yang bertugas mempertahankandominasi dari tindakan ini, sisanya kepada para pejabat politik dan pemimpin dari kerajaan tersebut.

Wallerstein mengemukakan system worldeconomies.
Tidak sama dengan system sebelumnya,
system politik tidak terjalin baik karena kekuatan militer sudah bersifat indepen. Namun, system ini tetapmengunakan cara memanfatkan hasil-hasil dari daerah yang terpelosok dengan tujuan untuk menguntungkan pihak yang mengatur mereka di pusat.

Wallerstein menggunakan tiga bentuk system social ini karena didalam tiga system sudah mulaimenyerap unsur-unsur kapitalis didalamnya. Pada dasarnya, Wallerstein mengkritik kaum kapitalisme yangmenciptakan sebuah konstruksi ekonomi yang baru, dimana terjadi ketergantungan negara-negara yangmemiliki capital yang lebih kecil terhadap negara yang memiliki capital yang lebih besar dalam aspekekonomi. Dia menunjukkan bahwa kapitalisme bukan hanya sistem ekonomi dibatasi oleh batas-batasnasional yang menyoroti ketimpangan kelas. Sebaliknya, kapitalisme juga harus dilihat sebagai suatu bentukkeadaan dimana terjadi proses pelibatan hubungan antar bangsa dan hubungan ini juga didasarkan padaketidaksetaraan. Negara-negara yang mengembangkan ekonomi kapitalistik berkeinginan dan selalumencoba untuk mendominasi negara-negara lain melalui penjajahan atau hanya melalui menghubungkan perekonomian bangsa dengan cara yang disukai bangsa lebih dominan dan menempatkan orang lain kedalam kondisi ketergantungan pada bangsa yang dominan. Para kaum kapitalis menciptakan efekketergantungan tersebut dengan membentuk perdangangan jarak jauh dan menghubungkan aktivitas perdagangan ini keseluruh dunia. Namun faktanya negara-negara di Eropa lebih diuntungkan karena semuamemungkinkan terhadap akumulasi modal yang signifikan berada di Eropa.Kemudian Wallerstein membagi jenis negara yang sesui dengan system social yang terjadi di duniatersebut. Ada tiga bentuk subtansi negara yang menjadi titik kajian dari teori ini yaitu, negara pheriperi(peripheral state), negara semi-pheriperi (semi-peripheral state), dan negara inti (core state).

Dipostingkan 16-april-2013 pukul : 22:27


SUMBER
http://www.academia.edu/5554568/Marxist_World_System_Theory_

Sabtu, 12 April 2014

kota

Kota-kota di indnesia tidak sehat . Stuktur pertumbuhannya cenderung menjadikan ruang terbuka sedangkan pemukiman terus terdesentralisasi, bergerak menjauh dari pusat kota. Menyebar dan menggeser wilayah pertanian di wilayah pinggiran. Proses ini tidak hanya membebani pengelolaan kota namun juga mengorbankan fungsi ekologis lingkungan dan tanah pertanian di wilayah pinggir-an dengan segala dampaknya. Pemukiman kumuh, kemacetan, degradasi lingkungan, polarisasi kemampuan masyarakat, serta social unfest adalah sejumlah indikator permasalahan yang secara kumulatif tidak efektif bagi pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat kota dan wilayah pinggiran-nya serta membebani roda pertumbuhan nasional. Transformasi struktur perekonomian indonesia yang prematur menjadi akar seluruh permasalahan ini, sehingga laju urbanisasin menjadi terlampau tinggi di atas kemampuan kota untuk berbenah. Dengan hal tersebut pengolahan kota termasuk penataan ruangnya, tidak dapat lagi di pandang sebagai beban intermal kota.

Penataan ruang perkotaan dapat juga dengan di laksanakan dengan program konsolidasi tanah antara lain :
ð  Mempercepat penyediaan dan pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum lainnya.

ð  Meningkatkan intensitas penggunaan tanah serta memperbaiki kondisi lingkungan


ð  Menghemat pengeluaran anggaran pemerintah untuk mengadakan tanah dan membangun infratruktur dan fasilitas umum
ð  Meningkatkan nilai tanah.

ð  Mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan perkotaan sekaligus menurunkan ketimpangan sosial yang bersumber dari kondisi permukiman.

Disamping itu, kebijakan pembangunan perkotaan perlu juga di arahin kepada pembangunan kota-kota yang mandiri. Langkah-langkah ini sangat penting untuk tujuan desentralisasi dan dekonsebtrai pembangunan kota dan sebagai alat untuk menarik migran potensial yang cenderung ke kota-kota metropolitan. Dengan demikian kota-kota ini dapat berperan dalam membenahi ketimpangan antara daerah serta mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional oleh karenanya mempunyai arti yang sangat strategis.
Kebijakan pengelolaan kota-kota besar di indonesia telah berhasil memacu pertumbuhan perkotaan yang sangat pesat di bidang fisik dan ekonomi perkotaan.Namun belom memberikan penekanan yang sepadan terhadap pertumbuhan sosial dan lingkungan. Di sejumlah kota besar seperti jakarta pertumbuhan fisik ini telah jauh merambat ke wilayah pinggiran telah memberikan dampak beban permasalahan yang kian hari kian bertambah berat, sehingga memerlukan penanganan secara lebih serius. Permasalahan perotaan memerlukan keterpaduan berbagai pendekatan seperti pemerataan pembangunan wilayah, pembangunan kota-kota kecil/menengah. Kordinasi perencanaan tata ruang kota dan wilayah pinggiran. Disisi pembenahaninternal kota, konsolidasi tanah dan pembangunan rumah susun merupakan alternatif yang sangat trategis namun keberhasilannya memerukan pertisipasi secara penuh dari pihak swasta dan masyarakat.
Prinsip-Prinsip  Perkembangan kota.
ð  Pembangunan perkotaan dilakukan secara lebih efesien yang akan menjamin keseimbangan lingkungan perkotaan yang baik dan berkelanjutan ( environ-mentally sustained).

ð  Program pembangunan perkotaan yang bertempu pada budaya lokal yang spesifik untuk masing-masing individu kota, sehingga memiliki ketahanan dn kota berkembang atas landasan budaya dan mempunyai jab diri yang mantap (culturally vibrant) dan diharapkan tidak terombang-ambing dalam menghadapi globalisasi.

ð  Pembangunan perkotaan dapat mencerminkan keadilan ( socially justic) yang terejawantahkan dalam mekanisme dan kapasitas pelayanan perkotaan terhadap masyarakat kota dimana masyarakat mempunyai akses yang sama pada seluruh fasilitas pelayanan perkotaan.

ð  Program pembangunan perkotaan selalu di dudukkan dalam kerangka pebangunan nasiona, sehingga pembangunan perkotaan akan meningkatkan produkbvitas perkotaan dalam kerangka pengembangan ekonomi perkotaan dan sekaligus ekonomi nasional

ð  Hal ini semua membutuhkan manajemen pembangunan perkotaan yang tertib dan efesien. Pemanfaatan sumber daya perkotaan perlu dilaksanakan secara hati-hati, mengingat secara spacial eluruh kegiatan sosial-ekonomi yang ada membutuhkan ruang . dan oleh karenanya perlu dilakukan suatu pendekatan pembangunan untuk dapat mengatur lokasi kegiatan-kegiatan tersebut dalam ruang, sedemikian rupa sehingga terdapat optimasi interaksi positif ( saling mengisi atau sinerjik) dan minimasi dampak negatif. Hal tersebut dilakukan dari mulai tahap perencanaan, pemnafaatan dn pengedalian. Kegiatan ini harus dilakukan secara holistik ( terpadu ) di dalam pendekatan pembangunan perkotaan.

Pelaksanaan pengembangan kegiatan sosial-ekonomi kota di lakukan dengan menjabarkan rencana tata ruang kota dalam program-program pengembangan SDM, Produksi, prasaranan dan lingkungan hidup dengan memperhtikan perkembangan ekonomi, kemamouan pendanaan pusat. Investasi swasta dan masyarakat. Kegiatan dilakukan secara bersama anatara seluruh stakeholder, sehingga penggunaan investasi dan ruang kota dapat terlaksanakan secara efesien. Pengendalian ruang kota didasarkan pada rencana tata rruang dan di dukung oleh suatu sistem monitoring transparan dan sistem insentif dan disinsenstif suatu sistem monitoring yang transparan dan sistem insentif dan disinsentif yang accountable.

Penataan kota di masa mendatang adalah penataan kota yang dapat mewujudkan suatu kota yang menjamin keseimbangan lingkungan yang baik.mempunyai jati diri (budaya) yang mantap , berkeadilan , produktif dan efesien. Hal tersebut hanya dapat di capai melalui penataan kota yang demokratis ( melibatkan stakehiders ). Sehingga  seluruh masyarakat kota merasa memiliki ( citizenship city).  Dengan demikian kita memandang perencanaan bukan produknya namun yang lebih penting adalah proses bagaimana kita menghasilakn produk perencanaan tersebut.

Di postingkan minggu,13-april-2014 pukul 11:55

SUMBER:
http://www.slideshare.net/fitriwardhono/kumpulan-makalah-tentang-perencanaan-kota#

Rabu, 09 April 2014

Kelompok Sosial atau Grup

Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Contoh guru mengajar merupakan contohkelompok sosial antara individu dengan kelompok.

Pengertian Kelompok Sosial Kelompok Sosial menurut para pakar

1.      Menurut Soerjono Soekanto
Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan yang hidup bersama karena adanya hubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.

2.      Menurut Hendro Puspito
Kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.

3.      Menurut Paul B. Horton & Chaster L. Hunt
Kelompok sosial adalah suatu kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.

Klasifikasi Kelompok Sosial

Klasifikasi menurut cara terbentuknya

Kelompok semu, yaitu: kelompok yang terbentuk secara spontan
Ciri-ciri kelompok semu :
1). Tidak direncanakan
2). Tidak terorganisir
3). Tidak ada interaksi secara terus menerus
4). Tidak ada kesadaran berkelompok
5). Kehadirannya tidak konstan

Kelompok Nyata, mempunyai beberapa ciri khusus sekalipun mempunyai berbagai macam bentuk:

1.      Kelompok Statistical Group
Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.

2.      Societal Group / Kelompok Kemasyarakatan
Kelompok societal memiliki kesadaran akan kesamaan jenis, seperti jenis kelamin, warna kulit, kesatuan tempat tinggal, tetapi belum ada kontak dan komunikasi di antara anggota dan tidak terlihat dalam organisasi.

3.      Kelompok sosial / social groups
Para pengamat sosial sering menyamakan antara kelompok sosial dengan masyarakat dalam arti khusus. Kelompok sosial terbentuk karena adanya unsur-unsur yang sama seperti tempat tinggal, pekerjaan, kedudukan, atau kegemaran yang sama. Kelompok sosial memiliki anggota-anggota yang berinteraksi dan berkomunikasi secara terus menerus. Contoh : ketetanggaan, teman sepermainan, teman seperjuangan, kenalan, dan sebagainya.

4.      Kelompok asosiasi / associational group
Kelompok asosiasi adalah kelompok yang terorganisir dan memiliki struktur formal (kepengurusan).

Ciri-ciri kelompok asosiasi :
1.      direncanakan
2.      terorganisir
3.      ada interaksi terus menerus
4.      ada kesadaran kelompok
5.      kehadirannya konstan
2.      Klasifikasi menurut erat longgarnya ikatan antar anggota

  Klasifikasi Menurut Kualitas Hubungan Antar Anggota

a.       Kelompok Primer (Primary Group)
Merupakan suatu kelompok yang hubungan antar anggotanya saling kenal mengenal dan bersifat informal. Contoh : keluarga, kelompok sahabat, teman, teman sepermainan.

b.      Kelompok Sekunder (secondary Group)
Merupakan hubungan antar anggotanya bersifat formal, impersonal dan didasarkan pada asas manfaat. Contoh : sekolah, PGRI

4.      Klasifikasi Menurut Pencapaian Tujuan
a.       Kelompok Formal
Merupakan kelompok yang memiliki peraturan-peraturan dan tugas dengan sengaja dibuat untuk mengatur hubungan antar anggotanya.
Contoh : Parpol, lembaga pendidikan
b.      Kelompok Informal
Merupakan kelompok sosial yang terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang dan memiliki kepentingan dan pengalaman yang sama. Contoh : anggota OSIS

  Pendorong Timbulnya Kelompok Sosial
faktor-faktor tertentu yang mendorong manusia untuk membentuk dan bergabung dalam suatu kelompok sosial tertentu:

a.    Dorongan untuk mempertahankan hidup
Dengan manusia membentuk atau bergabung dengan kelompok sosial yang telah ada, maka secara tidak langsung manusia tersebut telah berusaha mampertahankan hidupnya, karena kebutuhan hidupnya  tidak mungkin akan terpenuhi dengan hidup menyendiri. Selain itu dengan adanya kelompok sosial, hubungan manusia semakin luas sehingga kemanapun dia pergi akan senantiasa merasa aman.

b.    Dorongan untuk meneruskan keturunan
Tidak dapat dipungkiri bahwa semua makhluk hidup mempunyai sifat alamiah yang sama, yakni meneruskan keturunan. Dengan kelompok sosial itulah seseorang akan menemukan pasangannya masing-masing, sehingga dengan demikian dorongan untuk meneruskan keturunan ini dapat tercapai

c.    Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja
Di era modern seperti sekarang ini manusia dituntut untuk melakukan pekerjaan yang efektif dan efisien dan memperoleh hasil kerja yang maksimal. Misalnya pada kelompok formal, dengan adanya pembagian tugas yang jelas maka pekerjaan yang dihasilkan akan dapat maksimal.

Faktor Pembentuk Kelompok Sosial

1.      Kedekatan
-       Kedekatan geografis tempat tinggal
Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial.

-       Kedekatan geografis daerah asal
Ketika seseorang merantau ke suatu tempat dan bertemu dengan orang yang sama-sama merantau dan berasal dari daerah yang sama, maka orang tersebut merasa ada ikatan batin, meskipun semula belum saling mengenal ketika masih di daerah asal.

2.      Kesamaan
Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya.

Kesamaan kesamaan yang dimaksud antara lain :
a.       Kesamaan kepentingan
Dengan adanya dasar utama adalah kesamaan kepentingan maka kelompok sosial ini akan bekerja sama demi mencapai kepentingan yang sama tersebut.
b.      Kesamaan keturunan
Sebuah kelompok sosial yang terbentuk atas dasar persamaan keturunan biasanya orientasinya adalah untuk menyambung tali persaudaraan, sehingga masing-masing anggotanya akan saling berkomitmen untuk tetap aktif dalam kelompok sosial ini untuk menjaga tali persaudaraan agar tidak terputus.
c.       Kesamaan nasib
Dengan kesamaan nasib/ pekerjaan/ profesi, maka akan terbentuk kelompok sosial yang mewadahinya untuk meningkatkan taraf maupun kinerja masing-masing anggotanya.

.    
Arti Penting Hidup Berkelompok
     Kita sebagai makhluk sosial tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Salah satu bentuk kerja sama kita dengan orang lain yaitu dengan membentuk kelompok sosial. Dalam sebuah kelompok sosial dapat membantu kita untuk mempermudah menyelesaikan suatu urusan, tugas atau tujuan dengan cara bekerja sama. Pekerjaan yang terasa sulit kita kerjakan sendiri akan menjadi lebih mudah jika dikerjakan secara berkelompok sebab dalam suatu anggota kelompok , setiapanggota mempunyai keahlian khusus di bidangnya masing-masing, sehinga terjadilah pembagian tugas dan spesifikasi kerja yang membuat hasil dari pekerjaan tersebut menjadi maksimal. Dari uraian tersebut dapat kita simpulkan bahwa  hidup berkelompok sangat penting untuk mempermudah memenuhi kebutuhan hidup.

Dipostingkan Minggu 09-april-2014 pukul 20:25

SUMBER:
Ismawati, Esti.2012 Ilmu Sosial Budaya Dasar, Yogyakarta : Penerbit Ombak
Saptono, Bambang S. 2006 SOSIOLOGI JILID 2 SMA KELAS XI, Jakarta: PT. Phibeta Aneka Gama
Subakti, A. Ramlan dkk. 2011 Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta: Prenada Media Group
http:\\id.wikipedia.com\kelompok-sosial\
http://muhtar-beninghati.blogspot.com/2012/03/makalah-kelompok-sosial.html